Menapaki Merbabu

Sekitar bulan April atau Mei, berawal dari obrolan ngalor-ngidul antara aku dan teman-teman kuliah, tercetus rencana pendakian gunung usai ujian akhir semester. Tanpa pikir panjang aku mau ikut. Aku belum pernah naik gunung, tapi hasrat mendaki sudah tertanam di hati saat melihat teman-teman yang kelihatan bangga sepulang mendaki. Semua pencapain mereka di gunung diumbar-umbar seakan baru pulang dari medan perang. Aku merasa tertantang.

Berhari-hari kemudian, rencana pendakian sering banget muncul di tengah obrolan meski belum ada kepastian. Tapi, salah satu temanku, Tabah, selalu meyakinkan kami bakal berangkat.

Di pertengahan Juli, Tabah menelepon. "Ken, kita mendaki di akhir Agustus. Ke Merbabu. Jadi ikut, gak?" katanya.

Mendengar kata “Merbabu”, yang terlintas di pikiranku adalah…


Aku dan Tabah mengobrol panjang, terutama tentang apa saja yang perlu disiapkan. Di akhir obrolan, pendakian ditetapkan pada hari Minggu, tanggal 28 Agustus 2022. Aku juga dapat informasi tentang siapa saja yang ikut. Kata Tabah, yang ikut cuma grup pertemanan kami. Namanya Sunda Empire. Bukan, bukan Sunda Empire yang itu. Kami tidak ada di bawah kekuasaan Lord Rangga. Kami cuma sekumpulan mahasiswa yang masuk grup WhatsApp yang entah kenapa dinamai begitu. Aku sendiri masih bingung kenapa namanya Sunda Empire padahal isinya orang-orang Jawa.

Mari kuperkenalan siapa saja mereka:

Tabah | The Pro

Orang yang paling antusias naik gunung. Memiliki pengalaman mendaki gunung-gunung tinggi maupun rendah. Mendaki Gunung Slamet menjadi kartu as-nya saat menyombongkan diri.


Vendi | The Pro but Humble

Seperti Tabah, Vendi juga berpengalaman mendaki gunung. Bedanya, Vendi tidak menyombongkan diri. 

Dimas/Albertt | Content Creator

Orang yang menjadi alasan kenapa kami mendaki ke Merbabu, karena dia mau rekam muka dan sabananya. Dimas adalah orang yang mendokumentasikan segala momen di pendakian kami.

Galih | Unexpected Pro

Orang yang paling tidak disangka-sangka bakal ikut mendaki. Pendakian kali ini digadang-gadang menjadi pembalasan dendamnya karena sering di-bully tiga orang di atas gara-gara gak sampai puncak di pendakian sebelumnya.

Andri | Mahasiswa Jompo

Pemula yang antusias naik gunung tapi sekalinya naik gunung, dia gak sanggup ngapa-ngapain di tenda.

Ken | Wibu

Pemula tampan, keren, cerdas, dan pemurah yang baru pertama kali naik gunung.





Berbekal riset di Gugel, aku memperoleh banyak informasi tentang gunung Merbabu:

  1. Ketinggian Gunung Merbabu mencapai 3000-an mdpl. Itu tinggi banget, dan pasti dingin. Kata temanku, Merbabu gak cocok untuk pemula. Bahkan, dia menyarankan aku naik gunung yang lebih pendek sebagai permulaan. Aku menyebutnya orang lemah. Cuma orang-orang lemah yang apa-apa harus dimulai dari yang termudah!
  2. Jarak tempuh pendakian sekitar tujuh sampai delapan jam. Ini bikin timbul pertanyaan. Apa gak capek? Apa gak kelamaan? Selain jalan, selama delapan jam mau ngapain?
  3. Orang-orang mendaki Merbabu karena ingin lihat Sabana yang cantik. Harus diakui sabana di puncak Merbabu emang cakep. Tabah bilang, supaya kuat mendaki, kita harus punya motivasi. Karena gak punya motivasi selain penasaran, maka sabana itu jadi motivasiku juga.

Sebagai orang introvert yang kebanyakan hidup di depan layar kaca dan jarang banget beraktivitas di luar rumah, informasi-informasi di atas menyadarkanku untuk menyiapkan kondisi fisik. Keadaan mentalku sendiri sudah sekuat baja dan tahan banting, tidak perlu diragukan atau ditingkatkan lagi. Aku tidak lemah!

Hari itu aku membeli sarung tangan anti dingin dan sepatu khusus mendaki lewat toko daring. Kukumpulkan pula perlengkapan lain yang sekiranya berguna untuk mendaki. Kalau kurang, nanti tinggal beli saat waktunya mepet. Toh, tanggal mainnya masih lama.

Dalam menyiapkan kondisi fisik, aku melakukan workout di rumah. Aku gak mau merepotkan teman-teman saat mendaki, jadi aku harus ada di kondisi prima. Awal workout tentu menyiksa, apalagi aku melatih seluruh bagian tubuh. Jantung rasanya mau copot, otot-otot menjerit, dan paru-paru hampir lumpuh. Untung waktu pemulihanku cukup cepat karena sebenarnya... aku adalah karakter anime. ANIME ITU NYATA!

Siksaan semacam itu tidak menghambatku, justru makin bikin aku sadar otot-ototku manja. Aku gak boleh berhenti di tengah jalan. Aku gak boleh bikin mereka manja. Aku harus rutin berolahraga supaya otot-ototku berevolusi. Aku harus menunjukkan kepada mereka siapa bosnya.

Dua pekan latihan fisik, sempat terpikir untuk berhenti. Bukan karena gak kuat, tapi malas. Akhirnya, setelah melihat manfaat yang kuterima selama dua pekan itu, yaitu kondisi fisik yang bugar dan berat badan naik sebesar 1,5 kg—sesuatu yang mustahil buatku selama ini—aku latihan lagi.

Aku melakukan latihan fisik sebanyak enam kali seminggu, dengan waktu satu sampai dua jam per latihan. Aku biasanya menutup workout dengan minum jus pisang campur buah naga supaya pisangku sebesar dan seganas naga kondisi dan staminaku pulih kembali.

Selain itu, aku melakukan praktik mendaki gunung. Ini adalah pendakian pertamaku, jadi setidaknya aku harus tahu lebih dulu bagaimana rasanya mendaki gunung agar bisa mengira-ngira tingkat kesulitannya. Berhubung aku anak rumahan dan sedang tidak di gunung, mau gak mau aku menggunakan benda-benda di rumah sebagai alat praktik.

Kebetulan rumahku punya dua lantai. Dengan sedikit imajinasi, aku membayangkan tangga menunju lantai dua sebagai jalur miring pendakian yang penuh pohon cemara di kanan dan kiri. Aku melakukan gerakan naik dari lantai satu ke lantai dua, turun, kemudian naik lagi. Naik dari lantai satu ke lantai dua, turun, kemudian naik lagi. Naik dari lantai satu ke lantai dua, turun, kemudian naik lagi. Naik dari lantai satu ke lantai dua, turun, kemudian naik lagi. Naik dari lantai satu ke lantai dua, turun, kemudian naik lagi. Begitu seterusnya. 

Latihan itu kuberi nama: Latihan Naik dari Lantai Satu ke Lantai Dua, Turun, kemudian Naik Lagi.

Sebagai orang introvert juga, aku harus membiasakan diri dengan budaya naik gunung, yaitu saling menyapa saat bertemu sesama pendaki. Katanya, sih, biar kita tidak dikira setan. Berhubung aku tidak di gunung, ya... aku sapa aja semua orang tiap kami berpapasan.

"Mari, Ma." Kusapa nyokap.

"Mari, Oom." Kusapa Oom.

"Mari, Pak." Kusapa tukang parkir klinik sebelah rumah.

Gara-gara rutin melakukan itu, mereka mengira aku mulai berubah menjadi orang yang lebih ramah.

--ooo--

Tibalah tanggal 27 Agustus 2022, satu hari sebelum tanggal pendakian.

Kami menjadikan hari itu sebagai waktu persiapan. Semalam kami sudah membuat janji kumpul jam satu siang di kosnya Andri. Rupanya kami semua baru berkumpul jam empat sore. Ada aja kesibukan mendadak dari masing-masing orang. Yang kumpul tepat waktu cuma aku, Galih, dan Andri. Sementara Tabah sibuk pindahan rumah. Dimas baru pulang badminton dan menunggu sepatunya di tempat sol sepatu. Vendi sibuk angkat-angkat gas (Ini bikin gak habis pikir, sih. Bukannya angkat harkat dan martabat keluarga malah angkat-angkat gas).

Ketimbang menunggu yang lain, aku, Andri, dan Galih membeli kebutuhan pribadi yang masih kurang. Aku beli buff masker—sebenarnya aku gak butuh-butuh banget, cuma biar mirip pendaki aja. Andri membeli sarung tangan dan buff masker. Galih cuma beli headlamp.

Sekitar jam 4 sore, Galih pulang karena harus ambil mobil buat perjalanan besok, juga perlengkapan lainnya karena dia akan menginap di kos Andri. Aku dan Andri mampir ke Mirota Kampus buat beli kebutuhan pangan. Sebagai dua orang yang gak pernah naik gunung dan gak tau apa yang harus dibawa, kami mengandalkan catatan dari Tabah. Dan, karena kebawa nafsu, kami memasukkan makanan apa pun yang kelihatan enak. Pokoknya ambil, masukin keranjang, bayar! Pada titik ini kami merasa tolol karena tagihan di nota lebih mahal dari uang yang disiapkan.

Di tempat lain, Dimas sudah tiba di kos Andri, sedangkan Tabah dan Vendi mengurus kebutuhan menginap di tempat penyewaan alat-alat hikingMereka menyewa tenda, matras, trekking pole, headlamp, dan sleeping bag.

Malamnya, kami segera mengemasi semua kebutuhan ke dalam tas carrier, masing-masing dengan beban yang sama beratnya. Selesai berkemas, kucoba gendong tas untuk merasakan seberapa berat beban yang dipikul, dan saat bersamaan aku merasakan betapa beratnya beban orang tuaku setelah aku lahir ke dunia.

Sebelum pulang, kami berjanji untuk berkumpul lagi di kos Andri paling lambat jam 7 pagi. Kenapa pagi banget? Sebab kami harus mengejar waktu mengingat jarak tempuh pendakian yang cukup lama. Kalau kesiangan, takutnya kami baru sampai puncak sewaktu langit gelap. Mau gak mau kami harus berangkat pagi. *Jam 7 pagi sebenarnya udah diundur dari yang awalnya jam 6.

--ooo--

Tanggal 28 Agustus 2022, hari pendakian akhirnya tiba!

Aku bangun tidur dini hari. Sialnya, hari itu hujan. Bukan hujan deras, tapi cukup cepat bikin baju kuyup. Aku membayangkan pendakian kali ini pasti bakal gak enak karena cuacanya. Untung hujan reda sebelum jam 7 pagi.

Budaya ngaret memang identik dengan warga negara Indonesia, dan sialnya kita melestarikan budaya tersebut. Semalam kami berjanji sampai kos Andri paling lambat jam 7 pagi, itu artinya kami harus berada di sana sebelum jam 7, bukan? Udah dimundurin jam janjiannya tapi tetap ada yang telat.

Usai berkumpul dan memasukkan semua tas carrier di bagasi mobil, kami berangkat dari Yogya menuju basecamp pendakian yang terletak di Dusun Suwanting. Iya, kami mendaki lewat jalur Suwanting. Kata Tabah, itu jalur paling berbahaya. Aku gak tahu itu benar atau enggak, tapi mendengar kalimat itu bikin aku ingin berkata kasar. Aku masih pemula, baru pertama kali mendaki, kok langsung dikasih jalur berbahaya?

Tibalah kami di basecamp. Kami melakukan registrasi ulang, sarapan, dan berak lebih dahulu agar perjalanan tidak terganggu oleh panggilan alamiah tersebut.


Dari kiri ke kanan: Tabah, aku, Galih, Andri, Dimas, Vendi

Cuacanya mendung banget. Udaranya dingin, cukup untuk menusuk kulit dan bikin hipotermia kalau telanjang bulat. Jujur, suasanya bikin semangat mendaki berkurang. Rasanya mending pulang ke rumah terus bobo seharian. Pasti enak banget. Di situ juga gak ada yang bisa dilihat karena semuanya tertutup kabut.

Registrasi ulang selesai, kami siap berangkat. Pihak pengurus basecamp cuma membekali kami selembar peta. Berhubung aku cukup baik hati kepada pada pembaca, akan kugambar peta yang ada di tangan kami. Jadi, kalian bisa tahu lokasi kami dalam cerita ini. *Peta ini digambar semirip mungkin dengan aslinya oleh orang yang gak bisa gambar dan lagi malas-malasan.


Dari basecamp, kami menuju pintu rimba naik ojek. Pintu rimba adalah tempat awal pendakian, semacam pembatas antara basecamp dan jalur pendakian. Di sana, angin deras muncul, udara semakin dingin, dan air-air yang menempel di daun berjatuhan seperti hujan. Kami menunggu cuaca sedikit reda sambil menyiapkan mental. Sebelum berangkat, kami berdoa. Perjalanan pun dimulai.

Kami menapaki jalur pendakian selangkah demi selangkah. Jalanan becek banget, dipenuhi lumpur. Mendung masih menghiasi angkasa, udara dingin masuk ke tulang, dan tetesan air mengeroyok badan dari mana-mana. Aku mencoba beradaptasi dengan tempat baru dan suasana pendakian. Kami lalui perjalanan itu dengan penuh obrolan dan lawakan sampai gak sadar sudah sampai di Pos 1.

Perjalanan ke Pos 2 sedikit lebih berat. Jalanan mulai curam, tapi semakin banyak tanaman indah di kiri dan kanan yang bagus banget untuk menyegarkan mata. Langit pun mulai cerah. Kami masih bisa bercanda, mengobrol ini-itu, juga bernyanyi-nyanyi. Belum ada nyeri di bagian tubuh. Untuk bernapas pun gak perlu berusaha keras. Makin lama kami berjalan, makin terasa beratnya perjalanan ini.

Selepas melewati Lembah Gosong, kami menemukan area landai untuk rehat sejenak sambil makan keripik pisang dan minum air mineral.

Perjalanan berlanjut. Kami sama sekali gak buru-buru. Kami jalan pakai tempo secukupnya saja. Kalau menemukan area landai, kami pasti istirahat. Di perjalanan kami juga bertemu para pendaki lainnya, mau itu yang lagi turun atau naik. Kalau bertemu mereka, Aku mempraktikkan hasil latihanku. Kusapa mereka semua dengan sangat ramah dan sopan. “Mari, Mas.” 

“Nutrisari,” balas mereka.

Satu hal yang aku suka dari rombongan kami adalah gak ada yang tega meninggalkan teman di belakang. Selama mendaki, aku cukup sering bertemu pendaki lain yang jalan sendirian. Waktu ditanya, “Sendirian, Mas?” Mereka jawab, “Enggak, kok, temen saya udah di depan.” Miris.

Tanjakan demi tanjakan kami tempuh dengan susah payah. Jalur pendakian semakin licin, berlumpur, dan curam. Muncul pula nyeri-nyeri di badan, dan napas semakin susah karena kadar oksigen yang menipis seiring tingginya kami berada. Pundak dan tumitku nyeri setengah mati. Vendi mengalami keram di paha dan jempolnya sakit, Andri punya masalah di dengkul. Di titik ini, Andri yang paling menderita. Dia kelihatan gak punya gairah untuk melanjutkan hidup lagi. Separuh nyawanya seakan dicabut mendadak. Selama beristirahat dia cuma bisa memandang sekitar lewat tatapan kosong.


Aku salut sama Dimas, Tabah, dan Galih yang kelihatan gak ada capeknya. Tabah selalu jalan santai di belakang. Galih langkahnya cepet banget. Dimas sedari awal sibuk merekam segala macam momen di perjalanan. 

Orang mengeluh, rekam! 

Orang kencing, rekam!

Orang celananya sobek, rekam!

Mukanya sendiri, rekam!

Sesampainya di Pos 2, kami beristirahat dan makan siang. Suasana masih tampak mendung, tapi gak terlalu dingin seperti di awal perjalanan. Kalau gak salah, kami ada di dalam awan.

Istirahat di Pos 2

Sebelum jam 2 siang, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 yang akan dijadikan tempat menginap. Dari banyaknya ulasan mengenai pendakian di Merbabu, perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 adalah yang paling berat. Jarak yang jauh dan jalur yang semakin curam menjadi alasannya. Kami cuma bisa menemukan sedikit area landai, sisanya berisi area yang lebih curam dari sebelumnya.

Sekitar jam 4 sore, badan kami sudah letih, berkeringat, kecut, dan lemas, tapi cuaca yang cerah bikin semangat untuk melanjutkan perjalanan terus membara. Kami beristirahat sejenak begitu menembus awan. Matahari tampak lebih besar dari biasanya. Awan-awan putih bagaikan lautan yang berombak dan bergulung-gulung. Kalau pernah nonton One Piece, bentuk awannya mirip Skypiea. Kami bisa melihat puncak Gunung Sumbing dan Sindoro, dan puncak Gunung Merapi di sisi lainnya.





Teman-temanku memotret segala pemandangan indah yang disediakan, sementara aku milih istirahat. Puas memotret dan merekam pemandangan serta muka mereka sendiri, kami melanjutkan perjalanan. Jalanan yang semula licin digantikan jalur kering yang berdebu, tapi dipenuhi rumput-rumput segar. Puncak gunung yang semakin kelihatan bikin perjalanan seakan mudah meskipun semakin curam. Akhirnya, perjalanan panjang kami selesai di jam 5 sore.

Bergotong-royong kami mendirikan tenda sebelum langit menggelap dan udara dingin. Sumpah, aku gak tahan dengan dinginnya. Kaget. Aku lupa latihan menahan dingin. Kalau kepikiran, mungkin aku akan latihan menyelam di air es dulu. Kami membangun dua tenda, masing-masing untuk tiga orang. Di tenda pertama ada aku, Andri, dan Tabah; di tenda satunya diisi Vendi, Dimas, dan Galih.

Kami mengenakan pakaian tebal sebelum berkumpul di tenda yang kutempati untuk makan sayur sop yang dimasak Tabah, kemudian menenggak minuman hangat, makan camilan, dan ngobrol ngalor-ngidul. Waktu itu aku malas banget buat ngobrol, mending langsung istirahat. Sebelum Galih, Vendi, dan Dimas pulang ke tendanya, kami membicarakan rencana summit di esok hari.

Summit yang dimaksud adalah summit attack, yaitu perjalanan menuju puncak gunung dari pos penginapan.

Jam 9 malam, masing-masing tenda mulai sepi. Andri udah kebelet tidur, begitu pula aku dan Tabah meskipun masih kuat melek. Kami bertiga mengobrol tentang keluhan selama perjalanan dan sakit yang kami terima. Kami juga membicarakan masalah kuliah. Entah bagaimana tiba-tiba aku lupa apa yang terjadi setelah obrolan itu. Yang kuingat cuma bangun tidur jam 11 malam karena kebelet kencing.

Sisa malam itu kuhabiskan untuk melamun sambil menatap langit-langit. Aku gak bisa tidur lagi karena kaki dingin banget padahal udah pakai dua lapis kaos kaki dan sleeping bag. Di luar juga berisik banget gara-gara para pendaki yang baru sampai di Pos 3. Tabah dan Andri sudah tidur lelap, aku tahu dari dengkuran mereka. Aku udah memaksa diri untuk tidur, tapi malah tidur-bangun berkali-kali.

Jam 2 malam, akhirnya aku merasakan kantuk. Aku langsung merem. Hampir aja aku tidur lelap, tiba-tiba cahaya senter menyerobot ke mata  diiringi suara cekikikan dari luar. Ketika aku membuka mata, Dimas nyengir sambil mengarahkan cahaya senter ke arah kami bertiga.

“Ken, mau summit gak?” kata Dimas.

“Sekarang?” kataku lemah sambil menahan kantuk.

“Enggak.” Dimas cekikikan.

“MATAMU!”

Susah tidur, aku pindah ke tenda sebelah. Kami bikin Energen dan makan Indomie. Obrolan tentang summit pun muncul lagi. Mereka berencana summit jam 3 subuh. Karena pada antusias, aku mau ikut. Setengah jam kemudian Tabah bangun dan ikut gabung ke tenda sebelah. Andri? Sibuk bermimpi indah. Tabah memutuskan untuk gak ikut summit karena kakinya sakit, juga mengantuk. Maka, kami terbagi menjadi dua tim. Di Tim Fantastic Four ada aku, Vendi, Dimas, dan Galih; sementara Tim CUPU ada Tabah dan Andri.

Jam 3 Subuh, kami melakukan persiapan. Kami memakai pakaian-pakaian tebal yang menutup hampir seluruh bagian tubuh kami. Di kepala kami ada headlamp untuk penerangan, sementara di tangan ada trekking pole. Dari Pos 3, kami segera menuju puncak. Kami mengikuti tanda panah yang menunjukkan ke mana kami harus pergi.

Belum lama aku jalan, tiba-tiba malam menyergap dari mana aja. Udara dingin menembus pakaian-pakaian. Napas juga susah banget. Badan yang semula capek jadi semakin capek. Aku juga mengantuk. Ternyata bebannya seberat ini. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku bergabung dengan Tim CUPU yang bersantai di tenda. Galih, Vendi, dan Dimas tetap melanjutkan perjalanan.

Di tenda, Tabah dan Andri (yang akhirnya bangun) sedang mengobrol dan bikin kopi.

“Lah, kok balik?” kata Andri. “Aku aja belum selesai ngobrol sama Tabah.”

“Kopiku aja belom dingin, lho.” Kata Tabah cekikikan.

“Dingin!” Aku melumuri diri dengan sleeping bag. “Gak kuat!”

Mereka makan mi instan sementara aku baca novel lewat ponsel sambil minum kopi. Andri langsung tidur pulas begitu mi instannya habis. Aku dan Tabah mengobrol sebentar tentang cewek dan One Piece sebelum ikut tidur.

Jam 6 pagi, aku bangun. Sebagai orang yang doyan menulis, aku sepakat sama orang-orang yang bilang bahwa gunung merupakan salah satu tempat terbaik untuk memperoleh inspirasi. Pagi itu pikiranku secara refleks merangkai kata-kata menjadi puisi. 

Di pos tiga Merbabu, aku ingin minum teh

Tapi enggak bawa dari rumah

Aku ingin jalan-jalan

Tapi aku capek

Aku ingin menulis cerpen

Tapi lupa bawa pulpen

Aku hanya punya sleeping bag

Jadi aku mending lanjut tidur deh

Di tengah keterbatasanku,

Apa kamu mau menerimaku apa adanya?

Aku tidur lagi sehabis bikin puisi.

Jam 7 pagi, aku terbangun lagi gara-gara Tim Fantastic Four Three baru pulang ke tenda. Tabah, Vendi, dan Dimas segera menyiapkan perlengkapan masak. Aku, Galih, dan Andri jalan-jalan sambil melihat-lihat pemandangan.

Mereka yang sampai ke puncak


Kami mengakhiri pendakian dengan memasak dan makan bersama. Kami makan nasi sarden dicampur telur rebus dan nugget. Dengan makanan yang dimasak secara tidak higienis—telur jatuh ke tanah, bahan-bahan diletakkan di matras berpasir, dan tangan belum dicuci sehabis kencing—kami makan dengan nikmat seakan itu buatan juru masak profesional.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: 12 Angry Men (1957) - Kenapa Dua Belas Pria Ini Marah?

Filosofi Billiard

PIU LUCU SEKALI