Kisah Sedih di Hari Kamis

Minggu lalu, aku mengerjakan tugas melukis yang dikasih guru seminggu sebelumnya. Jujur, tugas ini cukup menarik. Entah kenapa aku suka tugas sekolah yang disuruh bikin karya seni. Mungkin inilah passion-ku selain mengangkat harkat dan martabat orang tua di mata dunia. Ini berarti daftar passion-ku bertambah satu:

1. Mencerdaskan bangsa Indonesia
2. Mengangkat harkat dan martabat orang tua di mata dunia
3. Menjadi manusia yang membuat karya, alias seniman
4. Menjadi pemimpin keluarga yang berasaskan kekeluargaan dan gotong-royong
5. Mewujudkan keluarga yang religius, berakhlak mulia, berprestasi, terampil, dan berbudaya lingkungan. *ini sih visi sekolah, sih*

Ya, passion seniman berada di tengah-tengah, di antara passion hebat lainnya. Hal itu dimaksudkan biar aku gak bingung tentang apakah passion itu akan gue prioritaskan atau diabaikan

Selama pengerjaan, aku beli kuas baru dan cat baru. Kuhamburkan harta kekayaanku demi sebuah karya seni yang akan super duper power cool ini. Aku adalah orang yang berjiwa seni, berselera estetika yang tinggi, dan berbakat di bidang kreatif *begitulah kata nenek
Jadi, apa pun hasilnya, aku pasti bangga.

Setelah lukisan selesai, aku pamer ke nyokap. "Baguuuss," katanya sambil pamerin dua jempol. Pamer ke teman, mereka juga memuji. Itu pujian tulus, bukan karena mereka habis kutraktir nasi padang. 

Keren kan

Lukisan itu kuberi nama "Jangan Bakar Aku." Sebuah kritik sosial yang abstrak. Teman cewekku ada yang tanya, "Kok pohonnya cuma satu, Ken?"

"Karena kamu satu-satunya."

Hari Kamis adalah waktu pengumpulan lukisan. Di hari itu, teman-teman sekelas juga bawa lukisan mereka. Kulihat satu per satu, ada yang melukis bunga, ada yang melukis bunga, ada yang melukis bunga. BUSET KOK BUNGA SEMUA! Ada, sih, yang melukis ayam, burung toucan, gunung fuji, pemandangan, tapi banyak yang bunga.

Beberapa teman maju untuk mengumplkan, tapi aku bingung kenapa mereka malah cuma ngumpul dan ngobrol di dekat meja guru. Aku, yang berjiwa seni dan berselera estetika tinggi ini, akhirnya dengan percaya diri maju. "Ini, ya, pak," kataku bangga.

"Sebentar," kata dia. "Awannya jelek. Bawa pulang terus diperbaiki dulu." *aku langsung gondok

Dari 34 siswa, 3 diterima, 17 ditolak, dan 3 tidak mengerjakan. Sisanya disembunyikan karena takut diberi komentar pedas.

Beberapa teman sekelas berusaha memperbaiki lukisannya, tapi lukisan yang udah jelek malah makin jelek. Ada yang murung, bete, kesel, misah-misuh, dan ada yang banding-bandingin lukisannya padahal sama-sama ditolak. Yang paling parah, temanku yang lukisannya ditolak di-bully sama yang ditolak juga.

Sejak detik itu, tiap kali aku berdiri dan melihat ke langit, awan sudah tak sama seperti yang dulu lagi.

Awan, kau sudah tak seindah dulu

Aku mulai sensitif soal awan. Kesensitifan ini bikin aku jadi pemarah. Kalau lagi nongkrong di taman, ada orang pacaran di dekatku dan mereka mesra-mesraan sambil ngomongin tentang indahnya awan sore itu, aku pasti menggebrak dan bentak, "ANDA NYINDIR LUKISAN SAYA?!"

Hari itu aku pulang bawa lukisan, mau kuperbaiki. Om yang main ke rumah pun tanya.

"Itu apa, Ken?"
"Tugas sekolah, Om."
"Kok dibawa pulang? Belum selesai?"
"Disuruh ganti awannya. Kata guru, jelek."
"Coba lihat."

Kutunjukkan lukisanku. Om lihat dengan serius dan bilang, "Emang jelek, sih, kayak anak SD."

PEDIH.


Minggu, 3 Februari 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review: 12 Angry Men (1957) - Kenapa Dua Belas Pria Ini Marah?

Filosofi Billiard

PIU LUCU SEKALI